Acacia's posts with tag: article
 Wah citra Bali yang aman yang sempat hilang karena adanya bom Bali kini telah pulih. Bali termasuk tujuan wisata nomor satu menurut Yahoo Travel mengalahkan semua tempat wisata lainya dimuka bumi. Ingin Ke Bali: Kunjungi Dulu Disini
 Warga Seraya dan Kubu di Kabupaten Karangasem, Bali, sejak sebulan terakhir mengalami kesulitan air akibat kemarau. Seperti warga Banjar Kangin, Desa Seraya Timur, Selasa (29/7), mereka juga berjuang mendapatkan air dengan menampung rembesan dari celah cadas. Kadek Supartini bergegas ke hilir seolah akan pulang ke rumah setelah menimba air. Namun, gadis cilik berusia 11 tahun itu sebenarnya hanya bisa menenteng segayung air di dasar embernya. Di alur sungai kering Tukad (Sungai) Hitam di Banjar Kangin, Desa Seraya Timur, Kecamatan Seraya, Kabupaten Karangasem, di ujung Timur Pulau Bali, Selasa (29/7) siang, anak remaja dan orangtua bersusah payah mengumpulkan tetes dan rembesan air untuk memenuhi kebutuhan air minum mereka. Desa Banjar Kangin ini jaraknya sekitar 20 kilometer sebelah timur Amlapura, kota Kabupaten Karangasem, atau sekitar 110 km dari Denpasar, Bali. Kekeringan terlihat dampaknya di Pulau Dewata sejak pekan ketiga Juni. Ribuan warga dua kecamatan bertetangga–Seraya dan Kubu–sejak sebulan lalu mengeluh kesulitan air minum. Maklum, sebagian besar wilayah Kecamatan Seraya dan Kubu berada di lereng gunung dan bukit tandus. Tumpuan hidup warga umumnya bergantung pada lahan kering yang ditanami jagung dan tanaman perdagangan, seperti jambu mete. Keadaan itu jauh berbeda dengan kawasan Bali lainnya, terutama di daerah selatan dan barat, yang rata-rata berlahan basah, subur, serta berlimpah air. ”Saya belum pulang, tunggu sampai ember penuh. Kalau mau timba air di sini tidak bisa tunggu di satu tempat, harus pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain biar ember cepat penuh,” ujar Supartini, siswa kelas IV sekolah dasar itu. Hari itu ia tidak pergi ke sekolah karena badannya demam. Namun, ia tetap ke Tukad Hitam guna mencari air. ”Walaupun sakit, saya harus ikut bantu orangtua mencari air. Kami di sini sekarang sulit dapat air,” kata anak kedua—dari tiga bersaudara—pasangan I Nengah Suwela dan Ni Wayan Sulandri asal Banjar Tukad Hitam itu. Bocah lain, Sulandri, tidak sendirian saat mencari air di Tukad Hitam. Ia bersama sejumlah warga lain dengan tujuan sama, menunggu rembesan air yang menetes pelan dan pelit melalui celah cadas. Mereka adalah ibunda Supartini, Ni Wayan Sulandri (37), Ni Wayan Resih (52), Ketut Reken (32), dan warga lainnya. Di sekitarnya terlihat sejumlah sapi menunggu kesempatan membasahi kerongkongan. Seperti yang dilakukan Supartini, memburu air dari satu titik ke titik lain merupakan kegiatan lazim di kalangan warga setempat. Itu dilakukan karena rembesan air di satu mata air langsung habis dari ceruk tampungannya setelah diciduk satu atau dua gayung. Sambil menunggu genangan kecil baru, warga harus berpindah ke titik lain, siapa tahu air tampungan sudah cukup untuk ditimba. ”Untuk mendapatkan air hingga ember penuh (sebanyak lima liter), warga harus menunggu sekitar satu jam. Selama itu mereka harus berpindah-pindah untuk menimba air dari satu titik ke titik lain,” kata Ketut Reken, yang ikut memburu air di Tukad Hitam. Ketut Reken mengisahkan, kalau musim hujan, alur Tukad Hitam selalu mengantarkan banjir dan tak jarang mengancam perkampungan di sekitarnya. Namun, alur sungai yang berhulu di Gunung Parung itu kini mengering setelah tiga pekan hujan berhenti. Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengatakan, untuk meringankan beban warga Pemkab Karangasem melalui Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) setempat setiap hari mengedrop air bersih 16-20 tangki berkapasitas 2.500-3.000 liter per tangki secara gratis (Kompas, 26/7). Selasa siang, setidaknya dua mobil tangki menyalurkan air untuk warga Seraya dan Kubu. Namun, air bantuan itu jauh dari cukup. Sejumlah warga di Desa Seraya, Seraya Timur, dan Banjar Kangin mengaku belum pernah memperoleh air bantuan pemerintah. Selama ini warga harus mencari air di sungai,” ujar I Nengah Diantem (40), warga Banjar Dogading, Seraya. Ia sedang dalam perjalanan pulang dari mengambil air di Tukad Sakua, 4 km dari rumahnya. Pengakuan senada dilontarkan Ketut Reken, Ni Wayan Sulandri, dan sejumlah warga di Banjar Kangin, Seraya Timur, desa yang bertetangga rapat dengan Seraya. ”Sudah hampir dua bulan kami kesulitan air minum. Dan, belum sekali pun dapat bantuan air minum dari PDAM Karangasem,” kata Ketut Reken sambil mengeluh bagaimana harus memberi minum tiga sapi miliknya. Selama kemarau, sapi itu terpaksa diberi minum air kotor dan genangan yang tersisa. Kawasan Seraya dan Kubu seharusnya sudah terbebas dari penderitaan kesulitan air bersih. Ini seiring pembangunan jaringan perpipaan PDAM Karangasem yang mengalirkan air dari Tirta Gangga, sumber air berdebit tinggi di sekitar hulu Amlapura, kota Kabupaten Karangasem. Jaringan pipa telah menembus hingga perkampungan tahun 1989. Jaringan pipa sudah tersambung hingga Desa Seraya, dan Desa Seraya Timur, termasuk di Banjar Kangin dan Banjar Tukad Hitam. Namun, sampai kini air tidak pernah mengalir.
Budayawan asal Prancis Dr Jean Cauteu menilai, lambang-lambang yang tergores dalam kanvas karya I Wayan Sujana Suklu SSN tersirat sebagian masyarakat Bali lupa akan kulturnya.
"Jika kondisi itu dibiarkan berlanjut dikhawatirkan bisa jatuh dalam cengkeraman kapitalisme global berikut akibat paradoksalnya," kata Jean Cauteu mengomentari pameran tunggal Sujana Suklu di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, kondisi tersebut tersirat dalam pepatah "Kacang lupa akan kulitnya". Suklu yang juga dosen seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu lewat karyanya dengan sadar menyikapi hal tersebut.
"Konsep dasar dari pameran yang berlangsung sebulan penuh itu adalah di tengah dinamika global dan lokal saat ini," ujar Jean Cauteu, politikus seni yang sudah puluhan tahun menetap di Bali.
Ia menilai, sosok Sujana Suklu menyadari betapa pentingnya memiliki suatu sikap kritis yang bertitik pijak pada kultur lokal guna menghindari alieansi.
Lewat pameran yang menampilkan sepuluh karya seni dan sejumlah karya instalasi itu bisa melacak kecenderungan untuk menimbang identitas ke-Bali-annya.
Identitas tersebut tercermin dalam pola stilistik dasar repetitif seri karya abstrak "geometris" yang memang menjadi bagian dari pekerjaan kreatifnya dalam beberapa tahun belakangan.
"Salah satu ciri yang paling menonjol dari estetika Bali, baik dalam musik, tarian maupun seni rupa, ialah pengulangan atau semi-pengulangan dari patron-patron. Jadi, yang dikombinasikan satu sama lain secara musikal, dengan irama sebagai benang merah keutuhannya," ujar Jean Cauteu.
Ia menambahkan, apa yang dicapainya secara visual dalam pameran tersebut, merupakan suatu keberhasilan mengangkat struktur dasar dari sistem rupa Bali.
Prestasi tersebut tidak berhenti sampai disitu, namun pencapaian itu juga mencerminkan kemampuan Sujana Suklu dalam mentransformasi unsur fundamen lokal menjadi bagian dari bahasa global.
Hal itu merupakan sesuatu yang tidak mudah dicapai, mengingat adanya kecenderungan seniman belakangan ini untuk menelan begitu saja, baik menyangkut bentuk maupun isi (ikon), dari apa yang diandaikan sebagai global, ujar Jean Cauteu.
Sujana Suklu menggelar pameran tunggal di Gaya Fusion Art Space, Sayan, Ubud, Kabupaten Gianyar selama sebulan, hingga 26 Agustus 2008.
Pameran tersebut mengusung tema ritus bambu menampilkan sepuluh karya kanvas dan sejumlah karya instalasi.
 Sejatinya ke mana perginya jiwa-jiwa orang meninggal? Bukankah sebenarnya jiwa-jiwa itu tidak pergi, tapi justru pulang ke Sang Pemilik Kehidupan? Maka, berbahagialah mereka yang mengantar kepulangan itu dengan penuh syukur dan sukacita. Mengikuti, menyaksikan, dan merasakan upacara pelebon/ngaben (kremasi) keluarga kerajaan di Puri Agung Ubud, Gianyar, Bali, sepekan terakhir seperti memandang diri sendiri di hadapan cermin. Dalam tradisi masyarakat Bali, tubuh seseorang hanyalah wadah bagi jiwanya. Saat seseorang meninggal dipercayai bahwa atman atau jiwa tetap di sekitar tubuh. Tubuh terdiri dari unsur api, udara, air, bumi, dan ruang hampa harus kembali ke alam semesta, menyatu dengan Sang Pencipta. Inilah tujuan ngaben. Kematian sejatinya bukan akhir, tetapi awal. Lebih penting lagi cara hidup seseorang dan bagaimana harapan sangat kuat keluarga almarhum setelah kematian datang. Itulah yang jelas tertangkap dari cara sanak keluarga, rekan, dan warga melaksanakan ngaben atau pelebon. Nyaris tidak ada tangis, tapi wajah-wajah bersemangat, penuh harapan bagi yang telah meninggal, maupun yang ditinggalkan. Kremasi tiga anggota keluarga Puri Agung Ubud ini tergolong peristiwa besar, bahkan terbesar dalam tiga dasawarsa terakhir. Maka, ketika ngaben mencapai puncaknya, Selasa (15/7), ruas jalan sepanjang 2 kilometer di Jalan Raya Ubud selebar 5 meter dan jadi jalur arak-arakan jenazah menuju Setra (pemakaman) Dalam Puri Agung Ubud dari Kompleks Puri Agung Ubud disesaki manusia, warga setempat, warga daerah lain Bali, hingga turis dari mancanegara. Panitia menaksir jumlah hadirin mencapai 300.000 orang. Tiga orang yang dikremasi itu tergolong dituakan dan terpandang. Mereka adalah Tjokorda Gde Agung Suyasa, kepala keluarga Puri Agung Ubud dan ketua komunitas tradisional di Ubud sejak 1976; Tjokorda Gede Raka, seorang pensiunan di Kepolisian Kota Besar Denpasar; dan Gung Niang Raka. Turut pula dikremasi 68 jenazah dari empat banjar desa adat sekitar Puri Agung Ubud: Banjar Sambahan, Ubud Tengah, Ubud Kelod Peken, dan Ubud Kaja. Tjokorda Agung Suyasa lahir 14 Juli 1941, anak ketiga dari Tjokorda Gde Ngurah dari permaisuri pertama Tjokorda Istri Muter. Suyasa meninggal 28 Maret 2008, sedangkan Tjokorda Gde Raka dari Puri Anyar Ubud meninggal sepekan sebelumnya. Desak Raka adalah istri pertama dari almarhum Tjokorda Raka dari Puri Kaleran Belingsung Ubud. Desak Raka lahir 1917 dan meninggal 23 Desember 2007. Jenazah Desak Raka sebenarnya pernah dikremasi pada pelebon sederhana, beberapa saat setelah meninggalnya. Namun, kini memperoleh kremasi lengkap. Juru bicara Puri Ubud, Tjokorda Raka Kerthyasa, menjelaskan ngaben kali ini adalah pertama terbesar sejak 1979 saat ngaben seniman masyhur Ubud yang juga keturunan puri, Cokorda Gde Agung Sukawati. Mengingat fungsi puri/kerajaan dianggap penting dari sisi penegak moral dan ritual keagamaan, dukungan masyarakat di Bali pun sedemikian besar. Setidaknya 68 desa adat se-Bali secara gotong royong membantu upacara ini. ”Pelebon bukanlah suatu acara duka, tetapi diyakini sebagai cara menghibur jiwa-jiwa yang telah meninggal dan menjaga agar jiwa mereka tidak terganggu oleh tangisan yang ditinggal. Di sisi lain, pelebon merupakan bentuk gotong royong seluruh anggota keluarga dan masyarakat untuk mengurangi beban biaya,” kata Kerthyasa, Jumat lalu. Menurut Kerthyasa, berapa pun besarnya biaya upacara keagamaan—biaya fisik dalam seluruh ritual kremasi di Puri Agung Ubud kali ini sekitar Rp 3 miliar—upacara itu tidak dapat berhenti di tengah jalan. ”Dalam ngaben niri (sendiri) biaya bisa di atas Rp 50 juta dari kantong pribadi, tapi dalam ngaben massal biaya bisa ditekan jadi Rp 5 juta,” kata Ni Nyoman Rented, menantu almarhumah Ni Wayan Genjong, salah satu petani penggarap yang jenazahnya ikut dalam ngaben massal ini. Ngaben massal bersama tiga anggota Puri Agung Ubud juga terasa lebih istimewa bagi keluarga peserta. Harapan melihat kepulangan jiwa sanak keluarga ke Hyang Widhi Wasa terasa kian besar karena ngaben massal digelar bersama keluarga kerajaan. Sekitar pukul 12.30, Selasa kemarin, arak-arakan pun dimulai. Seluruh jenazah ditempatkan di sebuah bade (menara untuk jenazah dan yang tertinggi kali ini 28,5 meter dengan berat 11 ton) diarak ribuan warga Bali. Prosesi juga diikuti patung lembu penuh hiasan megah dan disucikan masyarakat Hindu serta patung Nagabanda. Patung naga hanya muncul pada kremasi keluarga puri yang dituakan. Saat dikremasi, jenazah ditempatkan di atas menara sebagai simbol antara bumi dan langit. Sebuah bhoma (topeng bermuka seram) ditempatkan di belakang menara untuk menakuti roh jahat dan topeng garuda di depan menara. Dengan beban sangat berat, plus kondisi jalan sempit dan penuh sesak manusia, sungguh tidak mudah mengusung bade-bade serta patung-patung. Begitu sampai di pemakaman, seluruh pengunjung bertepuk tangan, sedangkan para pengusung bersorak. Prosesi dilanjutkan ke area pemakaman (setra), diiringi gamelan bleganjur. Jenazah yang sudah dibalut kain kafan bersama aneka sesaji dimasukkan ke dalam perut patung lembu. Tepat pukul 18.30, api dinyalakan dan dalam sekejap melalap habis patung lembu, nagabanda, serta jenazah-jenazah. Pada akhir acara, pedanda membunyikan genta untuk menolong jiwa mencapai surga. Abu jenazah akan dilarung ke laut, simbol pengembalian ke alam semesta. Beberapa hari kemudian, tahap akhir upacara, yaitu nyekah; penyucian jiwa, yang akan ditempatkan sebagai leluhur di masing-masing merajan (tempat suci di kompleks pura keluarga).
 Museum Lontar di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, adalah museum lontar satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Didirikan Juni 1928, museum lontar menyimpan 5.278 lontar, 2.782 di antaranya masih asli, berisikan naskah Jawa Kuno, Bali, dan Lombok. Arsip Nasional Republik Indonesia atau ANRI tengah berusaha mendapatkan kembali arsip-arsip milik Indonesia yang ada di luar negeri. Selain itu, ANRI juga berupaya menjalin kerja sama dengan negara lain untuk mendapatkan duplikat dokumen negara lain yang ada kaitannya dengan Indonesia. ”Kami telah menjalin kerja sama dengan kearsipan di negara Australia, Belanda, Suriname, dan Singapura untuk bisa mendapatkan kembali arsip milik Indonesia atau arsip milik mereka yang ada hubungannya dengan Indonesia,” kata Kepala ANRI Djoko Utomo, Selasa (15/7) di Pontianak. Keberadaan arsip yang akan dikelola dengan baik itu, menurut Djoko, selain penting bagi sejarah perjalanan bangsa, juga menjadi bagian dari pemerintah untuk membuka akses informasi yang seluas-luasnya kepada publik. Oleh karena itu, dia berharap setiap daerah memiliki institusi yang secara khusus bisa mengelola arsip-arsip di daerah dengan lebih baik dan profesional. Sayangnya, ia melihat pemahaman mengenai arsip masih sebatas dokumen kertas yang sudah tua dan warnanya mulai pudar. Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya di, tempat yang sama, menyatakan, keberadaan arsip tidak hanya penting untuk mengetahui sejarah masa lalu, tetapi juga penting untuk menjadi pijakan dalam membuat kebijakan di masa yang akan datang.
Denpasar, Kompas - Puluhan orang dari berbagai organisasi, Senin (21/1), mendatangi Kantor Gubernur dan DPRD Bali di Denpasar. Mereka menolak pemberian gelar pahlawan nasional bagi mantan Raja Gianyar Anak Agung Gde Agung, sekaligus mendesak pemerintah meninjau kembali kebijakan pemberian gelar tersebut.
Mereka yang menolak pemberian gelar tersebut berasal dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bali, Pemuda Panca Marga (PPM) kabupaten/kota se-Bali, dan Ikatan Keluarga Pahlawan Bali, yang kemudian menamakan diri Keluarga Besar Pejuang Bali.
Di Kantor Gubernur, para pengunjuk rasa diterima Gubernur Bali Dewa Made Beratha. Sementara di Kantor DPRD, mereka ditemui Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya.
Gelar kepahlawanan untuk Anak Agung (AA) Gde Agung dianugerahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat keputusan pemberian gelar pahlawan nasional pada 9 November 2007. AA Gde Agung dinilai berjasa dalam perjuangan diplomasi, khususnya dalam pelaksanaan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Sejumlah kalangan di LVRI mengatakan, pengajuan gelar itu dilakukan oleh sejumlah kalangan di DI Yogyakarta.
Terkait dengan pemberian gelar itu, AA Nanik Suryani (dari PPM Bali) mengingatkan, ada beberapa hal yang tidak dilalui dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional itu. Antara lain, lanjutnya, pengajuan oleh masyarakat atas calon yang bersangkutan kepada bupati/wali kota setempat dan pengajuan kepada gubernur sebagai kepala daerah sekaligus Badan Pembinaan Pahlawan Daerah (BPPD) melalui Dinas Kesejahteraan Sosial oleh bupati/wali kota.
”Kedua hal tersebut tidak dilalui. Selain itu, sesampai di tingkat BPPD pun usulan mestinya dikaji dan diteliti. Dan terakhir, dari BPPD dilanjutkan ke Menteri Sosial selaku Ketua Umum Badan Pembina Pahlawan Pusat. Dua hal terakhir ini pun tidak dilalui,” kata Nanik.
Rasa nasionalisme
Ketut Genar (dari LVRI Bali) menggugat rasa nasionalisme AA Gde Agung. Ia mengatakan, yang bersangkutan saat menduduki takhta kerajaan Gianyar pada tahun 1944-1946 justru lebih banyak berpihak pada Belanda selaku penjajah. Hal itu antara lain tercermin dari keikutsertaan AA Gde Agung mendirikan organisasi Pemuda Pembela Negara yang notabene bekerja sama dengan Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
”Dia (AA Gde Agung) jelas tidak memenuhi kriteria pahlawan nasional, yang antara lain ditunjukkan dengan tidak pernah menyerah pada lawan dalam perjuangan. Kenyataannya, dia justru memihak lawan,” kata Genar menambahkan.
Menanggapi hal itu, Dewa Beratha mengatakan, pihaknya tidak pernah mengusulkan pemberian gelar kepahlawanan terhadap AA Gde Agung sekaligus tidak mengerti bagaimana keputusan Presiden bisa keluar. Untuk itu, ia meminta agar Keluarga Besar Pejuang Bali mengajukan surat resmi penolakan terhadap Presiden. Gubernur juga berjanji untuk berusaha mempertemukan mereka dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan berada di Bali pada 27 Januari mendatang.
Sumber: Kompas, Kepahlawanan, Selasa 22 Januari 2008
| |