 Wah citra Bali yang aman yang sempat hilang karena adanya bom Bali kini telah pulih. Bali termasuk tujuan wisata nomor satu menurut Yahoo Travel mengalahkan semua tempat wisata lainya dimuka bumi. Ingin Ke Bali: Kunjungi Dulu Disini
 Warga Seraya dan Kubu di Kabupaten Karangasem, Bali, sejak sebulan terakhir mengalami kesulitan air akibat kemarau. Seperti warga Banjar Kangin, Desa Seraya Timur, Selasa (29/7), mereka juga berjuang mendapatkan air dengan menampung rembesan dari celah cadas. Kadek Supartini bergegas ke hilir seolah akan pulang ke rumah setelah menimba air. Namun, gadis cilik berusia 11 tahun itu sebenarnya hanya bisa menenteng segayung air di dasar embernya. Di alur sungai kering Tukad (Sungai) Hitam di Banjar Kangin, Desa Seraya Timur, Kecamatan Seraya, Kabupaten Karangasem, di ujung Timur Pulau Bali, Selasa (29/7) siang, anak remaja dan orangtua bersusah payah mengumpulkan tetes dan rembesan air untuk memenuhi kebutuhan air minum mereka. Desa Banjar Kangin ini jaraknya sekitar 20 kilometer sebelah timur Amlapura, kota Kabupaten Karangasem, atau sekitar 110 km dari Denpasar, Bali. Kekeringan terlihat dampaknya di Pulau Dewata sejak pekan ketiga Juni. Ribuan warga dua kecamatan bertetangga–Seraya dan Kubu–sejak sebulan lalu mengeluh kesulitan air minum. Maklum, sebagian besar wilayah Kecamatan Seraya dan Kubu berada di lereng gunung dan bukit tandus. Tumpuan hidup warga umumnya bergantung pada lahan kering yang ditanami jagung dan tanaman perdagangan, seperti jambu mete. Keadaan itu jauh berbeda dengan kawasan Bali lainnya, terutama di daerah selatan dan barat, yang rata-rata berlahan basah, subur, serta berlimpah air. ”Saya belum pulang, tunggu sampai ember penuh. Kalau mau timba air di sini tidak bisa tunggu di satu tempat, harus pindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain biar ember cepat penuh,” ujar Supartini, siswa kelas IV sekolah dasar itu. Hari itu ia tidak pergi ke sekolah karena badannya demam. Namun, ia tetap ke Tukad Hitam guna mencari air. ”Walaupun sakit, saya harus ikut bantu orangtua mencari air. Kami di sini sekarang sulit dapat air,” kata anak kedua—dari tiga bersaudara—pasangan I Nengah Suwela dan Ni Wayan Sulandri asal Banjar Tukad Hitam itu. Bocah lain, Sulandri, tidak sendirian saat mencari air di Tukad Hitam. Ia bersama sejumlah warga lain dengan tujuan sama, menunggu rembesan air yang menetes pelan dan pelit melalui celah cadas. Mereka adalah ibunda Supartini, Ni Wayan Sulandri (37), Ni Wayan Resih (52), Ketut Reken (32), dan warga lainnya. Di sekitarnya terlihat sejumlah sapi menunggu kesempatan membasahi kerongkongan. Seperti yang dilakukan Supartini, memburu air dari satu titik ke titik lain merupakan kegiatan lazim di kalangan warga setempat. Itu dilakukan karena rembesan air di satu mata air langsung habis dari ceruk tampungannya setelah diciduk satu atau dua gayung. Sambil menunggu genangan kecil baru, warga harus berpindah ke titik lain, siapa tahu air tampungan sudah cukup untuk ditimba. ”Untuk mendapatkan air hingga ember penuh (sebanyak lima liter), warga harus menunggu sekitar satu jam. Selama itu mereka harus berpindah-pindah untuk menimba air dari satu titik ke titik lain,” kata Ketut Reken, yang ikut memburu air di Tukad Hitam. Ketut Reken mengisahkan, kalau musim hujan, alur Tukad Hitam selalu mengantarkan banjir dan tak jarang mengancam perkampungan di sekitarnya. Namun, alur sungai yang berhulu di Gunung Parung itu kini mengering setelah tiga pekan hujan berhenti. Bupati Karangasem I Wayan Geredeg mengatakan, untuk meringankan beban warga Pemkab Karangasem melalui Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) setempat setiap hari mengedrop air bersih 16-20 tangki berkapasitas 2.500-3.000 liter per tangki secara gratis (Kompas, 26/7). Selasa siang, setidaknya dua mobil tangki menyalurkan air untuk warga Seraya dan Kubu. Namun, air bantuan itu jauh dari cukup. Sejumlah warga di Desa Seraya, Seraya Timur, dan Banjar Kangin mengaku belum pernah memperoleh air bantuan pemerintah. Selama ini warga harus mencari air di sungai,” ujar I Nengah Diantem (40), warga Banjar Dogading, Seraya. Ia sedang dalam perjalanan pulang dari mengambil air di Tukad Sakua, 4 km dari rumahnya. Pengakuan senada dilontarkan Ketut Reken, Ni Wayan Sulandri, dan sejumlah warga di Banjar Kangin, Seraya Timur, desa yang bertetangga rapat dengan Seraya. ”Sudah hampir dua bulan kami kesulitan air minum. Dan, belum sekali pun dapat bantuan air minum dari PDAM Karangasem,” kata Ketut Reken sambil mengeluh bagaimana harus memberi minum tiga sapi miliknya. Selama kemarau, sapi itu terpaksa diberi minum air kotor dan genangan yang tersisa. Kawasan Seraya dan Kubu seharusnya sudah terbebas dari penderitaan kesulitan air bersih. Ini seiring pembangunan jaringan perpipaan PDAM Karangasem yang mengalirkan air dari Tirta Gangga, sumber air berdebit tinggi di sekitar hulu Amlapura, kota Kabupaten Karangasem. Jaringan pipa telah menembus hingga perkampungan tahun 1989. Jaringan pipa sudah tersambung hingga Desa Seraya, dan Desa Seraya Timur, termasuk di Banjar Kangin dan Banjar Tukad Hitam. Namun, sampai kini air tidak pernah mengalir.
Budayawan asal Prancis Dr Jean Cauteu menilai, lambang-lambang yang tergores dalam kanvas karya I Wayan Sujana Suklu SSN tersirat sebagian masyarakat Bali lupa akan kulturnya.
"Jika kondisi itu dibiarkan berlanjut dikhawatirkan bisa jatuh dalam cengkeraman kapitalisme global berikut akibat paradoksalnya," kata Jean Cauteu mengomentari pameran tunggal Sujana Suklu di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, kondisi tersebut tersirat dalam pepatah "Kacang lupa akan kulitnya". Suklu yang juga dosen seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu lewat karyanya dengan sadar menyikapi hal tersebut.
"Konsep dasar dari pameran yang berlangsung sebulan penuh itu adalah di tengah dinamika global dan lokal saat ini," ujar Jean Cauteu, politikus seni yang sudah puluhan tahun menetap di Bali.
Ia menilai, sosok Sujana Suklu menyadari betapa pentingnya memiliki suatu sikap kritis yang bertitik pijak pada kultur lokal guna menghindari alieansi.
Lewat pameran yang menampilkan sepuluh karya seni dan sejumlah karya instalasi itu bisa melacak kecenderungan untuk menimbang identitas ke-Bali-annya.
Identitas tersebut tercermin dalam pola stilistik dasar repetitif seri karya abstrak "geometris" yang memang menjadi bagian dari pekerjaan kreatifnya dalam beberapa tahun belakangan.
"Salah satu ciri yang paling menonjol dari estetika Bali, baik dalam musik, tarian maupun seni rupa, ialah pengulangan atau semi-pengulangan dari patron-patron. Jadi, yang dikombinasikan satu sama lain secara musikal, dengan irama sebagai benang merah keutuhannya," ujar Jean Cauteu.
Ia menambahkan, apa yang dicapainya secara visual dalam pameran tersebut, merupakan suatu keberhasilan mengangkat struktur dasar dari sistem rupa Bali.
Prestasi tersebut tidak berhenti sampai disitu, namun pencapaian itu juga mencerminkan kemampuan Sujana Suklu dalam mentransformasi unsur fundamen lokal menjadi bagian dari bahasa global.
Hal itu merupakan sesuatu yang tidak mudah dicapai, mengingat adanya kecenderungan seniman belakangan ini untuk menelan begitu saja, baik menyangkut bentuk maupun isi (ikon), dari apa yang diandaikan sebagai global, ujar Jean Cauteu.
Sujana Suklu menggelar pameran tunggal di Gaya Fusion Art Space, Sayan, Ubud, Kabupaten Gianyar selama sebulan, hingga 26 Agustus 2008.
Pameran tersebut mengusung tema ritus bambu menampilkan sepuluh karya kanvas dan sejumlah karya instalasi.
 Sejatinya ke mana perginya jiwa-jiwa orang meninggal? Bukankah sebenarnya jiwa-jiwa itu tidak pergi, tapi justru pulang ke Sang Pemilik Kehidupan? Maka, berbahagialah mereka yang mengantar kepulangan itu dengan penuh syukur dan sukacita. Mengikuti, menyaksikan, dan merasakan upacara pelebon/ngaben (kremasi) keluarga kerajaan di Puri Agung Ubud, Gianyar, Bali, sepekan terakhir seperti memandang diri sendiri di hadapan cermin. Dalam tradisi masyarakat Bali, tubuh seseorang hanyalah wadah bagi jiwanya. Saat seseorang meninggal dipercayai bahwa atman atau jiwa tetap di sekitar tubuh. Tubuh terdiri dari unsur api, udara, air, bumi, dan ruang hampa harus kembali ke alam semesta, menyatu dengan Sang Pencipta. Inilah tujuan ngaben. Kematian sejatinya bukan akhir, tetapi awal. Lebih penting lagi cara hidup seseorang dan bagaimana harapan sangat kuat keluarga almarhum setelah kematian datang. Itulah yang jelas tertangkap dari cara sanak keluarga, rekan, dan warga melaksanakan ngaben atau pelebon. Nyaris tidak ada tangis, tapi wajah-wajah bersemangat, penuh harapan bagi yang telah meninggal, maupun yang ditinggalkan. Kremasi tiga anggota keluarga Puri Agung Ubud ini tergolong peristiwa besar, bahkan terbesar dalam tiga dasawarsa terakhir. Maka, ketika ngaben mencapai puncaknya, Selasa (15/7), ruas jalan sepanjang 2 kilometer di Jalan Raya Ubud selebar 5 meter dan jadi jalur arak-arakan jenazah menuju Setra (pemakaman) Dalam Puri Agung Ubud dari Kompleks Puri Agung Ubud disesaki manusia, warga setempat, warga daerah lain Bali, hingga turis dari mancanegara. Panitia menaksir jumlah hadirin mencapai 300.000 orang. Tiga orang yang dikremasi itu tergolong dituakan dan terpandang. Mereka adalah Tjokorda Gde Agung Suyasa, kepala keluarga Puri Agung Ubud dan ketua komunitas tradisional di Ubud sejak 1976; Tjokorda Gede Raka, seorang pensiunan di Kepolisian Kota Besar Denpasar; dan Gung Niang Raka. Turut pula dikremasi 68 jenazah dari empat banjar desa adat sekitar Puri Agung Ubud: Banjar Sambahan, Ubud Tengah, Ubud Kelod Peken, dan Ubud Kaja. Tjokorda Agung Suyasa lahir 14 Juli 1941, anak ketiga dari Tjokorda Gde Ngurah dari permaisuri pertama Tjokorda Istri Muter. Suyasa meninggal 28 Maret 2008, sedangkan Tjokorda Gde Raka dari Puri Anyar Ubud meninggal sepekan sebelumnya. Desak Raka adalah istri pertama dari almarhum Tjokorda Raka dari Puri Kaleran Belingsung Ubud. Desak Raka lahir 1917 dan meninggal 23 Desember 2007. Jenazah Desak Raka sebenarnya pernah dikremasi pada pelebon sederhana, beberapa saat setelah meninggalnya. Namun, kini memperoleh kremasi lengkap. Juru bicara Puri Ubud, Tjokorda Raka Kerthyasa, menjelaskan ngaben kali ini adalah pertama terbesar sejak 1979 saat ngaben seniman masyhur Ubud yang juga keturunan puri, Cokorda Gde Agung Sukawati. Mengingat fungsi puri/kerajaan dianggap penting dari sisi penegak moral dan ritual keagamaan, dukungan masyarakat di Bali pun sedemikian besar. Setidaknya 68 desa adat se-Bali secara gotong royong membantu upacara ini. ”Pelebon bukanlah suatu acara duka, tetapi diyakini sebagai cara menghibur jiwa-jiwa yang telah meninggal dan menjaga agar jiwa mereka tidak terganggu oleh tangisan yang ditinggal. Di sisi lain, pelebon merupakan bentuk gotong royong seluruh anggota keluarga dan masyarakat untuk mengurangi beban biaya,” kata Kerthyasa, Jumat lalu. Menurut Kerthyasa, berapa pun besarnya biaya upacara keagamaan—biaya fisik dalam seluruh ritual kremasi di Puri Agung Ubud kali ini sekitar Rp 3 miliar—upacara itu tidak dapat berhenti di tengah jalan. ”Dalam ngaben niri (sendiri) biaya bisa di atas Rp 50 juta dari kantong pribadi, tapi dalam ngaben massal biaya bisa ditekan jadi Rp 5 juta,” kata Ni Nyoman Rented, menantu almarhumah Ni Wayan Genjong, salah satu petani penggarap yang jenazahnya ikut dalam ngaben massal ini. Ngaben massal bersama tiga anggota Puri Agung Ubud juga terasa lebih istimewa bagi keluarga peserta. Harapan melihat kepulangan jiwa sanak keluarga ke Hyang Widhi Wasa terasa kian besar karena ngaben massal digelar bersama keluarga kerajaan. Sekitar pukul 12.30, Selasa kemarin, arak-arakan pun dimulai. Seluruh jenazah ditempatkan di sebuah bade (menara untuk jenazah dan yang tertinggi kali ini 28,5 meter dengan berat 11 ton) diarak ribuan warga Bali. Prosesi juga diikuti patung lembu penuh hiasan megah dan disucikan masyarakat Hindu serta patung Nagabanda. Patung naga hanya muncul pada kremasi keluarga puri yang dituakan. Saat dikremasi, jenazah ditempatkan di atas menara sebagai simbol antara bumi dan langit. Sebuah bhoma (topeng bermuka seram) ditempatkan di belakang menara untuk menakuti roh jahat dan topeng garuda di depan menara. Dengan beban sangat berat, plus kondisi jalan sempit dan penuh sesak manusia, sungguh tidak mudah mengusung bade-bade serta patung-patung. Begitu sampai di pemakaman, seluruh pengunjung bertepuk tangan, sedangkan para pengusung bersorak. Prosesi dilanjutkan ke area pemakaman (setra), diiringi gamelan bleganjur. Jenazah yang sudah dibalut kain kafan bersama aneka sesaji dimasukkan ke dalam perut patung lembu. Tepat pukul 18.30, api dinyalakan dan dalam sekejap melalap habis patung lembu, nagabanda, serta jenazah-jenazah. Pada akhir acara, pedanda membunyikan genta untuk menolong jiwa mencapai surga. Abu jenazah akan dilarung ke laut, simbol pengembalian ke alam semesta. Beberapa hari kemudian, tahap akhir upacara, yaitu nyekah; penyucian jiwa, yang akan ditempatkan sebagai leluhur di masing-masing merajan (tempat suci di kompleks pura keluarga).
 Museum Lontar di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, adalah museum lontar satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia. Didirikan Juni 1928, museum lontar menyimpan 5.278 lontar, 2.782 di antaranya masih asli, berisikan naskah Jawa Kuno, Bali, dan Lombok. Arsip Nasional Republik Indonesia atau ANRI tengah berusaha mendapatkan kembali arsip-arsip milik Indonesia yang ada di luar negeri. Selain itu, ANRI juga berupaya menjalin kerja sama dengan negara lain untuk mendapatkan duplikat dokumen negara lain yang ada kaitannya dengan Indonesia. ”Kami telah menjalin kerja sama dengan kearsipan di negara Australia, Belanda, Suriname, dan Singapura untuk bisa mendapatkan kembali arsip milik Indonesia atau arsip milik mereka yang ada hubungannya dengan Indonesia,” kata Kepala ANRI Djoko Utomo, Selasa (15/7) di Pontianak. Keberadaan arsip yang akan dikelola dengan baik itu, menurut Djoko, selain penting bagi sejarah perjalanan bangsa, juga menjadi bagian dari pemerintah untuk membuka akses informasi yang seluas-luasnya kepada publik. Oleh karena itu, dia berharap setiap daerah memiliki institusi yang secara khusus bisa mengelola arsip-arsip di daerah dengan lebih baik dan profesional. Sayangnya, ia melihat pemahaman mengenai arsip masih sebatas dokumen kertas yang sudah tua dan warnanya mulai pudar. Wakil Gubernur Kalimantan Barat Christiandy Sanjaya di, tempat yang sama, menyatakan, keberadaan arsip tidak hanya penting untuk mengetahui sejarah masa lalu, tetapi juga penting untuk menjadi pijakan dalam membuat kebijakan di masa yang akan datang.
SEXUAL COMPABILITY My Venus Conjunct Her Pluto: The sexual attraction between you is very powerful, but is likely to have an intense, obsessive quality to it. You, in particular, may feel that she comes on too strong or is too insatiable and demanding. Jealousy, sexual manipulation or unrestrained emotional fervor are probable for the two of you. A love-hate kind of relationship is very possible.
My Mars Conjunct Her Uranus: You do find one another physically attractive but your sex life together mirrors the rest of your relationship -- it is a bit too aggressive to leave either of you with much of a sense of fulfillment or relaxation after a session of lovemaking. You may treat one another's bodies as battle fields on which to work out the aggressions you've built up either in your relationship together or in your lives outside the relationship. You both appreciate one another's sexual directness, as you always know where you stand with the other, but you would both benefit from a bit of subtlety and suavity.
ROMANCE COMPABILITY My Sun Conjunct Her Uranus: You inspire each other to try new things, experiment, and investigate alternatives. You may have met each other, for example, during a time period when both of you were breaking free from traditional values and exploring new possibilities. This is a good relationship for shared creative, innovative activities. You inspire each other, and have good times together, but you also find that commitments or contracts with each other are difficult to adhere to over time. This relationship works well as long as you don't make too many demands on each other.
My Sun Square Her Sun: Your relationship is dynamic and energizing. You challenge each other to grow and develop, but unfortunately the process tends to be abrasive and frustrating. The differences in your personalities that are described at the beginning of Chapter 1 deserve careful reading and attention because if not understood and handled properly, they can lead to mutual frustration.
Her Sun Square My Mars: This is a dynamic, energetic relationship, but unfortunately also a rather aggressive and combative one at times. As long as you don't end up fighting and competing with each other, you can accomplish a great deal together. However, the aggressiveness of this relationship is prone to foster anger and hurt feelings -so be careful not to incite hostility in each other.
Her Sun Square My Pluto: Your relationship is intense and complex. You engage in deep, intense discussions and encounters that unveil your innermost thoughts, feelings, goals, hopes, fears, and ambitions. This is not a superficial relationship! You are very uninhibited with each other, and you open up to each other more readily than to others. Be wary of power struggles, however, as you, in particular, may be tempted to manipulate and control her. Also, either of you may feel threatened, embarrassed, or disempowered by revealing so much of yourself to the other, and consequently feel the need to be secretive and competitive with each other. You have a profound influence upon one another, for good or ill.
Her Sun Sextile My Jupiter: The two of you really enjoy each other's company! You has a great deal of confidence in her and is able to see her best qualities. You are very encouraging and supportive of each other, helping each other to be more confident, open new doors, and advance and grow in both inner and outer ways. This positive note of good will and harmony is also invaluable in helping the two of you overcome differences in temperament and other stressful aspects of your relationship discussed elsewhere in this report.
 Tujuh tahun di Eropa, selama itu pula Ichwan Azhari memburu arsip sejarah Nusantara. Perpustakaan swasta maupun kampus-kampus, terutama di Jerman dan Belanda, menjadi tempat favorit yang didatanginya. la juga menemui para misionaris yang pernah bertugas di Indonesia. Pengumpul Arsip Sejarah SumateraPengembaraannya tak sia-sia, mengingat arsip lama sejarah Nusantara relatif tersimpan rapi di Eropa. Banyak dari arsip itu masih utuh, sesuai aslinya. Sebagian hanya tinggal satu sehingga dia tak bisa mendapatkan aslinya. Padahal, arsip-arsip langka itu sangat berharga bagi sejarah Indonesia. Beberapa arsip yang ditemukan Ichwan adalah surat kabar terbitan Indonesia (sebagian besar dari Sumatera Utara), peta lama, mata uang logam dan kertas, foto-foto, majalah, buletin, kartu pos, serta sejumlah piringan hitam. Semua dokumen itu dia gandakan dan sebagian dia beli aslinya. Saat pulang ke Tanah Air tahun 2001, arsip yang didapatkan dari Eropa ikut serta. Sebagian orang sempat mencibirnya sebagai konyol lantaran jauh-jauh dari Eropa hanya membawa "barang rongsokan". Kini, kumpulan arsip itu menjadi koleksi utama Pustaka Humaniora (Pusra) yang didiri-kannya pada April 2006. Baginya, pengumpulan dokumen itu penting untuk menyibak sejarah Nusantara akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, terutama tentang Sumatera. "Dari sini kita bisa tahu, ter-nyata pergerakan sejarah sebelum kemerdekaan tak hanya di Jawa, melainkan di berbagai penjuru Tanah Air, termasuk Sumatera," kata suami dari Netty Herawati ini. Koleksi Pusra yang didirikannya bertambah lengkap lantaran sumbangan kolega dan berbagai instansi pemerintah. Seluruh koleksi Pusra dikelompokkan menjadi tujuh golongan yang terdiri dari 3.399 jenis. Untuk arsip koran-koran lama, jumlah yang berhasil dia kumpukan sebanyak 10.000 lembar. Beberapa koleksi yang me-banggakannya adalah koran-koran akhir pada abad-19 yang terbit di Sumatera Utara, prangko zaman revolusi, uang zaman revolusi, dan uang kebon. "Semua ini hanya berlaku di Sumut. Saya sudah cek beberapa museum tidak ada yang mengoleksi, terutama uang kebon dan koran lama," katanya. la mempunyai sekitar 1.800 lembar koleksi prangko dari zaman Belanda, Jepang, dan awal revolusi serta 1.500 lembar uang lama dan uang kebon. "Awal November ini 6.500 koleksi buku, majalah, dan koran lama kami dipinjamkan untuk perpustakaan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Unimed (Universitas Negeri Medan)," ujarnya. Menggabungkan Data tentang Sejarah SumateraIchwan memperoleh sebagian besar arsip sejarah dari Jerman dan Belanda. Penggabungan seluruh arsip dari kedua negara itu menjadi kesatuan data sejarah yang saling melengkapi. Setelah mempelajari sebagian besar arsip yang didapatkan, kata dia, perusahaan swasta Eropa di Sumatera Utara itu lebih dulu masuk daripada Pemerintah Belanda. Perkembangan ini sangat memengaruhi migrasi penduduk, konflik, kekejaman sistem kapitalisme, "Intelektualitas, serte dinamika sosial dan budaya masyarakat Sumut, khususnya Medan dan sekitarnya. "Saya ingin membangun data selengkapnya tentang Sumut pada masa itu," ucapnya. Untuk "mewujudkan keinginan itulah, kesempatan mengajar dan belajar di Jerman 1995-2001 dimanfaatkannya guna mencari arsip-arsip pendukung. Ichwan bercerita, suatu hari, pada masa studi doktoralnya di Jerman, ia mendapat tugas dari sang profesor menemui seorang pendeta yang pernah bertugas di Tapanuli Utara bernama Kawinsky. Melalui pendeta itu, dia tahu bahwa banyak misionaris Jerman yang menyimpan foto, dan tulisan berharga pada akhir abad-19 sampai awal abad-20 tentang Sumut. Di Jerman terdapat lembaga misionaris terkenal di Wuppertal yang menyimpan Arsip Nommensen dan surat-surat Si Singamangaraja XII. Arsip ini, kata dia, belum dibaca dan diteliti dengan kritis. Sementara di Belanda, Ichwan banyak mendapatkan arsip koran, foto, dan peta lama Sumut. Berbekal arsip-arsip berharga itu, keinginan Ichwan membangun perpustakaan sendiri semakin kuat. Dalam benaknya, perpustakaan swasta seperti yang tumbuh subur di Jerman dan Belanda mestinya bisa berdiri di Medan. "Sejarah kita mestinya kita juga yang memiliki dan merawatnya. Tetapi selama ini, justru orang lain yang jauh di sana, yang merawat dan memeliharanya sampai sekarang," ujarnya. Pendirian Pusra tak lepas dari aktivitasnya sebagai pengajar tamu di Jurusan Indonesia, Fakultas Orientalis, Universitas Hamburg, Jerman, tempat dia juga menyelesaikan studi S-3 tentang sejarah pada 1995-2001. Dari kegiatan itulah, dia bisa menyisihkan sebagian penghasilan untuk mengumpulkan arsip-arsip sejarah. Mengontrak Demi Mengumpulkan Arsip Sejarah Sumatera Sekembali dari Jerman, Ichwan tinggal di rumah kontrakan di Medan. Uang yang dia peroleh selama mengajar dan mendapat beasiswa di Jerman nyaris habis untuk membeli berkas-berkas lama tentang Sumatera. "Itulah harta yang saya bawa dari Jerman." Belum sempat membuat perpustakaan, ia menyicil dengan menyusun dan mengelompokkan arsip-arsip tua tersebut. Pada tahap ini pula ia mendapat banyak masukan dan tambahan koleksi dari teman-teman di Medan. Baru pada April 2006 perpus-takaan Pusra berdiri dengan lima orang pengelola. Pusra me-nempati rumah sewaan di Jalan Tuasan 69 Medan, sekitar satu kilometer dari Kampus Universitas Negeri Medan (Unimed). Pada tahun pertama beroperasi, tamu bisa menikmati perpustakaan secara gratis. Semua pengunjung boleh membaca, tapi tak bisa membawa pulang buku. Pusra menyediakan foto kopi bagi mereka yang ingin menggandakan koleksi penting. Memasuki tahun kedua, April 2007, pengelolaan perpustakaan diperbaiki sebab ia kesulitan mencari biaya operasional. Selama itu biaya operasional per-pustakaan ditutup dari koceknya. Maka, diberlakukanlah sistem keanggotaan. Mereka yang menjadi anggota Pusra dipungut iuran Rp 20.000 per enam bulan. Dana itu untuk perawatan koleksi perpustakaan dan honor lima karyawan. Selama sekitar 12 tahun, sejak 1995, dana yang dikeluarkan Ichwan untuk Pusra tak kurang dari Rp 500 juta. "Itu hasil menyisihkan penghasilan selama bertahun-tahun juga ha-ha-ha." Pada perjalanannya, Pusra tak hanya menawarkan koleksinya untuk dibaca dan dipakai sebagai bahan penelitian, tetapi juga melayani penjualan buku "langka" atau buku yang jarang ditemukan di toko buku. Pusra pun berkembang menjadi komunitas, beberapa buku langka, seperti Tan Malaka di Medan, dicetak ulang. Pusra juga menjadi tempat diskusi para mahasiswa. Pengunjung Pusra semakin ramai, jumlah anggota aktif 169 orang. Setiap hari tak kurang dari 30 pengunjung dari berbagai kalangan, mulai murid sekolah dasar sampai dosen, memenuhi rumah sewaan bertipe 70 itu. BIODATANama : lchwan Azhari Lahir : Medan, 16 November 1961 Pendidikan : - S-l Jurusan Antropologi IKIP Medan, 1984
- S-2 Jurusan Sosiologi Pedesaan IPB, Bogor, 1991
- S-3 Sejarah Budaya, Universitas Hamburg, Jerman, 2001
Pekerjaan : - Dosen Jurusan Sejarah Univer-sitas Negeri Medan (Unimed), 2001-sekarang
- Dosen Program Studi Antropologi Sosial, Pascasarjana Unimed, 2001-sekarang
- Ketua Pusat Studi Sejarah dan llmu-ilmu Sosial (Pussis) Unimed, 2007-sekarang
Karya: - Menulis disertasi yang diter-bitkan dalam bafiasa Jerman berjudul "Die Politischen Bezi-ehungen zum Javanischen Majapahit in Klassichen Malais-chen Texten" (Perlawanan Wacana: Hubungan Politik dengan Majapahit dan Naskah-naskah Melayu Klasik)
- Mendirikan Pustaka Humaniora, 2006
Organisasi: - Ketua Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia (IASI) di Jerman, 1999-2001
- Ketua Forum Masyarakat Indonesia di Hamburg, 1998-2001
- Wakil Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Sumatera Utara
- Sumber: Sosok, Kompas, 31 Oktober 2007 oleh Andy Riza Hidayat
Denpasar, Kompas - Puluhan orang dari berbagai organisasi, Senin (21/1), mendatangi Kantor Gubernur dan DPRD Bali di Denpasar. Mereka menolak pemberian gelar pahlawan nasional bagi mantan Raja Gianyar Anak Agung Gde Agung, sekaligus mendesak pemerintah meninjau kembali kebijakan pemberian gelar tersebut.
Mereka yang menolak pemberian gelar tersebut berasal dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Bali, Pemuda Panca Marga (PPM) kabupaten/kota se-Bali, dan Ikatan Keluarga Pahlawan Bali, yang kemudian menamakan diri Keluarga Besar Pejuang Bali.
Di Kantor Gubernur, para pengunjuk rasa diterima Gubernur Bali Dewa Made Beratha. Sementara di Kantor DPRD, mereka ditemui Ketua Komisi I DPRD Bali Made Arjaya.
Gelar kepahlawanan untuk Anak Agung (AA) Gde Agung dianugerahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui surat keputusan pemberian gelar pahlawan nasional pada 9 November 2007. AA Gde Agung dinilai berjasa dalam perjuangan diplomasi, khususnya dalam pelaksanaan Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda. Sejumlah kalangan di LVRI mengatakan, pengajuan gelar itu dilakukan oleh sejumlah kalangan di DI Yogyakarta.
Terkait dengan pemberian gelar itu, AA Nanik Suryani (dari PPM Bali) mengingatkan, ada beberapa hal yang tidak dilalui dalam proses pengusulan gelar pahlawan nasional itu. Antara lain, lanjutnya, pengajuan oleh masyarakat atas calon yang bersangkutan kepada bupati/wali kota setempat dan pengajuan kepada gubernur sebagai kepala daerah sekaligus Badan Pembinaan Pahlawan Daerah (BPPD) melalui Dinas Kesejahteraan Sosial oleh bupati/wali kota.
”Kedua hal tersebut tidak dilalui. Selain itu, sesampai di tingkat BPPD pun usulan mestinya dikaji dan diteliti. Dan terakhir, dari BPPD dilanjutkan ke Menteri Sosial selaku Ketua Umum Badan Pembina Pahlawan Pusat. Dua hal terakhir ini pun tidak dilalui,” kata Nanik.
Rasa nasionalisme
Ketut Genar (dari LVRI Bali) menggugat rasa nasionalisme AA Gde Agung. Ia mengatakan, yang bersangkutan saat menduduki takhta kerajaan Gianyar pada tahun 1944-1946 justru lebih banyak berpihak pada Belanda selaku penjajah. Hal itu antara lain tercermin dari keikutsertaan AA Gde Agung mendirikan organisasi Pemuda Pembela Negara yang notabene bekerja sama dengan Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
”Dia (AA Gde Agung) jelas tidak memenuhi kriteria pahlawan nasional, yang antara lain ditunjukkan dengan tidak pernah menyerah pada lawan dalam perjuangan. Kenyataannya, dia justru memihak lawan,” kata Genar menambahkan.
Menanggapi hal itu, Dewa Beratha mengatakan, pihaknya tidak pernah mengusulkan pemberian gelar kepahlawanan terhadap AA Gde Agung sekaligus tidak mengerti bagaimana keputusan Presiden bisa keluar. Untuk itu, ia meminta agar Keluarga Besar Pejuang Bali mengajukan surat resmi penolakan terhadap Presiden. Gubernur juga berjanji untuk berusaha mempertemukan mereka dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang akan berada di Bali pada 27 Januari mendatang.
Sumber: Kompas, Kepahlawanan, Selasa 22 Januari 2008
Nothing is easy when we came to the end of something and realized that nothing had worked out. Everything that was nice became so devistating, something that was easy became so hard and twisted, or something that was warm and comfortable suddenly became so annoying.
There are some stages ini people's life when they came to a decision and said, "OK,I'm done, this is not working, and I'm through with this whole nonsence!". Some people would say this person is a quiter, a looser in life that afraid to try their best.
People have their own ways to keep everything they've started to be solid in every ways. No one wants to end up hurt or torn apart, but in some cases, you have no choice but pick the most hurting possibilities and be ready to be shaterred in pieces!
This is probably the most feared ending in every couple's mind. It's not easy to unite anything in this world, especially us, humans. We were meant to be stubbern, intolerance, inconsiderable and selfish! But God did created an increddible thing called love to conquered all of that dreadfull things.
But who could guarantee that? Every human has this unlimited power called " FREE WILLING", no one , even God himself couldn't intervere this power.
| |